Telp: (021) 3619535, Email: jdih@bppt.go.id

 

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menganugerahkan Gelar Perekayasa Utama Kehormatan (PUK) Tahun 2016 untuk Bidang Teknologi Maritim kepada Prof. Dr. Ir. Dwisuryo Indroyono Soesilo, M.Sc, di Ruang Auditorium BPPT, pagi tadi, Rabu (3/08). Penganugerahan PUK diselenggarakan BPPT setiap tahunnya sejak Tahun 2007, dan tahun ini adalah gelar ke 10 yang diberikan BPPT.


Dalam sambutannya, Kepala BPPT yang juga merupakan Ketua Majelis PUK, Unggul Priyanto mengatakan bahwa PUK merupakan bentuk penghormatan kepada warga negara pilihan atas jasa-jasanya yang sangat besar dan bermanfaat bagi kepentingan masyarakat dan bangsa Indonesia.

"Sebagai sebuah lembaga, BPPT mempunyai tanggung jawab untuk terus tingkatkan profesionalisme perekayasa atau engineer. Dengan berbagai pengembangan inovasinya dalam dunia maritim, Prof. Dr. Ir. Dwisuryo Indroyono Soesilo, M.Sc, layak dianugerahi PUK", jelas Unggul.

Dirinya juga berpesan kepada para perekayasa yang ada diseluruh Indonesia, agar terus berkarya menghasilkan inovasi. "Dengan adanya Penganugerahan PUK ini, semoga dapat memotivasi para engineer atau perekayasa lainnya untuk terus bekontribusi bagi bangsa", pungkas Unggul.

Sebagai informasi, Indroyonomerupakan sosok panutan yang memiliki karir cemerlang baik di tingkat nasional maupun internasional. Pada tingkat nasional, pria bergelar Profesor Riset di Bidang Geologi dan Penginderaan Jauh ini sempat menjabat Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Republik Indonesia pada Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo, dari Oktober 2014 hingga Agustus 2015.

Sedangkan Karir di tingkat internasional diperoleh karena kerja yang cemerlang di dunia perikanan membuatnya menyandang jabatan Direktur Sumber Daya Perikanan dan Aquakultur FAO (Director of the Fisheries and Aquaculture Resources Use and Conservation Division, FAO), salah satu anak organisasi dari PBB di tahun 2012. Indroyono kala itu mewakili Indonesia dan negara ASEAN bersaing dengan 4 kandidat lain yang berasal dari Austria, Brasil, Iran, dan Irak untuk mengikuti pemilihan Direktur Jenderal FAO (Food and Argiculture Organization) periode 2012-2015 yang berlangsung di Roma pada 25 Juni - 2 Juli 2011.

Peraih Bintang Mahaputera Pratama (2009) ini juga termasuk inisiator dalam pembentukan Rencana Aksi Daerah Mengenai Pemancingan yang Bertanggung Jawab, melibatkan 10 negara di kawasan Asean serta Australia (2007) dan pernah memimpin pengelolaan konservasi sumber daya kelautan dari APEC Working Group pada 2006-2008; dan menjadi Ketua Delegasi Indonesia dalam konferensi-konferensi baik di tingkat regional maupun internasional.

Pria yang saat ini menjabat sebagai Honorary Advisor (Penasehat Menteri) Kementerian Pariwisata inipun sempat mengawasi satu Proyek Studi Pemberantasan Praktek IUU Fishing di Laut Arafura pada 2008; menjadi delegasi Indonesia dalam Inisiatif UNEP-PBB Karbon Biru Dana FAO; Sekretaris di Eksekutif World Ocean Conference 2009 yang menghasilkan Deklarasi Kelautan Manado; dan sebagai penggerak utama dalam pembentukan Coral Triangle Initiative pada 2007. (Humas/HMP)